Laman

Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2017

Tawuran


Halow, sobat, kenalin, saya adalah ruh dari seorang warga Batavia yang hidup di pertengahan abad ke-17. Selagi hidup, ane dipanggil Bang Amin. Asli dari Kampung Jawa, di luar tembok Batavia, kota metropolitan di zamannya. Ada tiga kampung yang ditempati oleh orang Jawa saat itu. Sebagian besar tinggal di sekitar Benteng Jaccatra di hulu Kali Krukut. Sisanya di luar gerbang Utrecht barat Kota, dan di luar gerbang Diest selatan Kota di mana saya sendiri tinggal. Saya hidup di saat Kompeni Belanda alias VOC tengah bersitegang dengan Banten dan Makassar—dua kerajaan Islam pesisir nan tangguh; satu di barat Pulau Jawa, satu di selatan Sulawesi, yang masing-masing merupakan kerajaan yang giat berniaga secara internasional. Juga di sebuah masa di mana perbudakan adalah hal lazim dan manusiawi. 

Jumat, 06 Januari 2017


istana Gowa Makassar
Istana Kesultanan Gowa-Makassar di abad ke-19

Juru Tulis Karaeng Pattingaloang


Kenalin, saya adalah juru tulis Karaeng Pattingaloang. Tentu sebagian besar masbro dan mbaksis asing dengan nama junjunganku ini. Namanya kalah populer oleh Sultan Hasanuddin Makassar dan Arung Palakka, padahal beliau kenal dekat dengan kedua orang legendaris tersebut, karena karaeng-ku ini adalah perdana menteri Kerajaan Makassar pada pertengahan abad ke-17. Jujur—bukan karena anakbuahnya—saya bangga pernah mengabdi padanya. Otak beliau itu di atas rata-rata para bangsawan Makassar, Bugis, dan bangsawan lainnya di Sulawesi, bahkan mungkin dengan aristokrat se-Nusantara di zamannya. Mengapa?