Nasionalisme Konfrontatif
“Ganyang Malaysia!”
dan “Ganyang Nekolim!” adalah dua dari banyak seruan patriotik nan riuh-rendah
yang begitu mengharu biru di zaman Demokrasi Terpimpin. Presiden Soekarno, di
tengah situasi Perang Dingin yang memanas serta pertarungan partai-partai ideologis
dalam negeri yang tak kalah panas saat itu, begitu gemar membakar gelora nasionalisme
orang Indonesia yang untuk
menghancurkan neokolonialisme seperti di Malaya. Sang Presiden ingin
buktikan pada PBB dan Amerika Serikat bahwa Indonesia bukanlah budak mereka,
karena itu politik luar negeri Indonesia cenderung menoleh pada Soviet dan RRC.
Ia makin percaya diri setelah Papua Barat jatuh ke dalam pelukan Indonesia dari
Belanda yang sebelumnya enggan menyerahkan wilayah itu sejak KMB ditandatangani
di Den Haag akhir 1949.
