Penyamarataan Selera:
“Komunisme Primitif” Tanpa Sadar
Suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang teman yang belum
dekat-dekat amat bada isya. Untuk menghormati saya, atas pertimbangan saya
pasti lapar, teman saya membuatkan mie rebus komplit dengan telurnya untuk
saya. Saya, yang memang perutnya mulai keroncongan, tentu menerima sajiannya
itu seraya ucapkan terima kasih – walau lambung saya sudah tak cocok dengan
mie, baik yang instan maupun pelengkap bakso.
Jujur, sejak kecil perut saya lumayan sensitif terhadap mie
(juga rujak, pempek, dan makanan asam-manis-pedas lainnya – makanan yang memang
merangsang nafsu makan siapa pun). Tapi, tak mungkin saya interupsi pada tuan
rumah yang belum dekat-dekat banget dengan saya itu. Dalam hati sebelumnya saya
berharap, dia menawari saya nasi goreng yang dijajakan si penjualnya yang
melintas dengan gerobaknya di gang depan rumahnya. Rupanya, ia menyamaratakan
bahwa semua orang, termasuk saya, oke-oke aja kalau disuguhi mie instan. Tak ada
pikiran di otaknya bahwa kapasitas dan kemampuan organ pencernaan setiap
manusia berbeda-beda.



