Laman

Kamis, 30 Januari 2020


JELAJAH KE GUNUNG TAMPOMAS SUMEDANG


Seperti halnya kota-kota di Jawa Barat, Sumedang pun banyak memiliki destinasi wisata. Ada yang berupa curug (air terjun), perkebunan teh, sumber air panas, pemandian air panas, kampung wisata (agrowisata), mata air, waduk (bendungan), eco green park, gunung, museum, hingga arung jeram.

Beberapa destinasi wisata curug di Sumedang di antaranya: Curug Ciptawangi, Curug Cigorobog, Curug Cipongkor, Curug Cibayawak, Curug Sabuk, dan Curug Cinulang. Yang termasuk perkebunan teh adalah Perkebunan Teh Margawindu. Yang termasuk sumber air panas, wisata mata air, pemandian air panas, dan wisata alam adalah Sumber Air Panas Sekarwangi, Wisata Air Gajah Depa, Mata Air Sirah Cipelang, Pemandian Air Panas Cileungsing, Pemandian Air Panas Conggeang, Wisata Mata Air Cikandung, dan Wisata Alam Pangjugjugan. 

Sabtu, 07 September 2019


Pejalan Kaki

Aku melihat, trotoar ber-paving blok di kedua sisi jalan itu cukup lebar. Jika keduanya disatukan, lebarnya hampir selebar jalan beraspal yang diapitnya. Para pejalan kaki melangkah kaki begitu leluasa dan tanpa hambatan. Mereka menikmati hak mereka di tempat yang seharusnya. Sama seperti pengendara mobil, motor, dan sepeda menjalankan kendaraan mereka di jalan yang mulus tak berkubang dan berlubang itu. Aku terkesima dan aku sadar saat itu aku sedang menonton sebuah film produk Jepang.


Ketertiban barang langka bagiku, bagi warga yang mendiami sebuah kota besar di Indonesia. Di kota ini, di tanah kelahiranku, trotoar bukan tempat pedestarian merasakan kenyamanan berjalan kaki. Jarang sekali ada trotoar yang lebar. Kebanyakan sempit dan tak tertata rapi. Di beberapa titik bolong dan penuh sampah. Bungkus rokok berikut puntungnya, bekas kemasan cemilan, bersatu dengan dedaunan yang berguguran dan busuk, memenuhinya. Dan aku harus menepi jika berpapasan dengan kios dan kedai pecel lele.


CITARUM, SELAYANG PANDANG SEJARAH

Apakah Citarum sudah ada sejak Pulau Jawa tercipta beradab-abad sebelum Masehi? Saya belum tahu. Keberadaan sungai ini baru tertulis begitu Tanah Sunda atau Priangan memasuki abad sejarah; maksudnya, ketika nama sungai ini tertulis dalam aksara—bukan hanya terpendam dalam ingatan kolektif hasil penuturan lisan.

Banyak ahli berpendapat bahwa nama Citarum berasal dari tarum alias nila, tumbuhan pewarna untuk mencelup benang atau kain. Kata “tarum” sendiri sudah menempel pada sebuah kerajaan kuno di sekitar Bekasi, yakni Tarumanagara. Banyak prasasti ditemukan yang membuktikan keberadaan kerajaan bercorak Hindu tersebut.


MEMAHAMI PAPUA MELALUI MITOLOGI MEREKA


Papua kembali bergejolak. Isu “Papua Merdeka” menyeruak kuat lagi. Dan bangsa ini kerap gagal memahami mereka. Yang paling banter pemerintah lakukan hanya mengawasi mereka dengan penuh curiga, mengantisipasi kemungkinan “pemberontakan”, mengekspolitasi sumber daya alam mereka, dan fokus pada infrastruktur saja. Kita enggan, atau lupa, atau tak mau tahu alasan psikologis-kultural sebagian masyakarat Papua yang sudah tak nyaman berada dalam genggaman Republik ini.

Kita abai mempelajari tradisi, mentalitas, dan pola hidup masyarakat Papua. Padahal, itulah kata-kata kuncinya, dan itu semua terangkum dalam mitologi-mitologi mereka. Sayangnya pula, kita yang mengaku orang modern menganggap mitologi atau mitos itu cuma cocok bagi anak-anak sebagai acuan moral saja (agar disebut “cinta tanah-air”). Sementara, para orangtua menyibukkan diri dalam majelis-majelis keagamaan, mendengarkan kotbah kotbah yang temanya justru memusuhi tema tema dalam mitos mitos yang ada di Nusantara ini. Ironis! Mereka cuma bilang serampangan: mitos kan peninggalan masyarakat “animisme” dan “dinamisme”, kaum “penyembah berhala”. Padahal, agama pun, dalam beberapa hal, juga mitos!  


Pedagang Indonesia

23 Juni 1596, empat kapal Belanda mendarat di pelabuhan Banten. Sang kapten armada, Cornelis de Houtman, lega, setelah 13 bulan berlayar dari kampung halamannya, bisa selamat di tujuan—inilah kali pertama orang Belanda mendarat di Indonesia. Baru saja kapal-kapalnya membuang sauh, ia melihat sejumlah pedagang Portugis naik ke kapalnya sebagai penghormatan dan segera menjelaskan kondisi perdagangan di Jawa serta memuji kesuburan dan kekayaan alam pulaunya. Setelah itu, orang-orang Portugis itu turun.


Esoknya, barulah para bangsawan Banten mengunjungi kapal de Houtman, lalu mengundang orang-orang Belanda itu berniaga bebas di pelabuhan. Tak selang berapa lama, Cornelis melihat serombongan perahu yang berisi pedagang pribumi, Cina, dan Gujarat mengitari kapal-kapalnya di dermaga. Tanpa dipanggil dan disuruh, para pedagang itu menaiki kapal-kapal Belanda. Serta merta saja, geladak kapal-kapal itu sontak seperti pasar. “Tak ada yang salah dan semuanya sempurna kecuali apa yang salah dengan kami sendiri,” kenang seorang pelaut Belanda yang ikut dalam pelayaran.


Penyamarataan Selera: 
“Komunisme Primitif” Tanpa Sadar


Suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang teman yang belum dekat-dekat amat bada isya. Untuk menghormati saya, atas pertimbangan saya pasti lapar, teman saya membuatkan mie rebus komplit dengan telurnya untuk saya. Saya, yang memang perutnya mulai keroncongan, tentu menerima sajiannya itu seraya ucapkan terima kasih – walau lambung saya sudah tak cocok dengan mie, baik yang instan maupun pelengkap bakso.


Jujur, sejak kecil perut saya lumayan sensitif terhadap mie (juga rujak, pempek, dan makanan asam-manis-pedas lainnya – makanan yang memang merangsang nafsu makan siapa pun). Tapi, tak mungkin saya interupsi pada tuan rumah yang belum dekat-dekat banget dengan saya itu. Dalam hati sebelumnya saya berharap, dia menawari saya nasi goreng yang dijajakan si penjualnya yang melintas dengan gerobaknya di gang depan rumahnya. Rupanya, ia menyamaratakan bahwa semua orang, termasuk saya, oke-oke aja kalau disuguhi mie instan. Tak ada pikiran di otaknya bahwa kapasitas dan kemampuan organ pencernaan setiap manusia berbeda-beda.

Bangsa yang Naluriah: Animal Instinc


Di planet Bumi ini, salah satu yang saya paling musuhi adalah kefanatikan. Mau itu kefanatikan terhadap klub sepak bola, agama atau mazhab tertentu, ideologi tertentu, genre musik atau band tertentu, termasuk kepada (suku) bangsa sendiri. Kefanatikan kerap membuat garis batas yang tegas dan angkuh terhadap “yang lain”, “yang tak satu kelompok”, “yang berbeda”. Ia akan berubah jadi keberingasan lunatik jika “yang lain” itu dianggap melintasi garis batas suci tersebut. Kefanatikan adalah keegoisan akut, yang relatif tak gampang disembuhkan.



Senin, 01 Oktober 2018


Mempertahankan Indonesia


Sebagai sebuah negara modern, Indonesia “baru” ada sejak 72 tahun silam. Sebelum Proklamasi, imaji Indonesia masih abstrak dan mengawang. Sebelum abad ke-20 yang ditandai dengan demam pergerakan nasional, yang ada, secara sosiohistoris, hanyalah negara-negara tradisional, yang sebagian terkoyak oleh kolonialisasi Belanda, sementara sisanya masih merdeka sebagai bangsa-bangsa dalam bentuk yang paling kuno di hutan rimba pedalaman.

Archipelago ini—yang disebut “Nusantara” atau “Dwipantara” oleh pujangga-pujangga Jawa kuno dulu—tak pernah dipersatukan oleh sebuah kekuasaan tunggal seperti Jepang atau Cina di masa pra-modern. Pernah suatu masa kepulauan ini (termasuk di dalamnya Semenanjung Malaya) dikuasai Majapahit yang ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah, namun tak langgeng. Tak ada faktor x yang bisa mempersatukan negeri-negeri kepulauan di “Bawah Angin” itu di bawah naungan sebuah imperium raksasa. Bahasa, agama, aksara, agama, dan mentalitas masing-masing penduduk yang cenderung berlainan, menjadikan mereka secara politis memilih hidup masing-masing sesuai pandangan hidup leluhurnya. Yang terjalin secara alamiah hanyalah keakraban ekonomis. Dari gunung turun ke laut. Dari hulu mengalir ke hilir. Dan sebaliknya. Masing-masing punya mitos, legenda, dan sejarah sendiri—walau kadang saling bertautan dan punya kemiripan.

sumber foto: collectie tropen museum

Senin, 17 September 2018

Sang Mayor yang Memerdekakan Budak-budaknya

Merdeka adalah hak setiap bangsa dan setiap insan. Juga merdeka dari perbudakan. Di dalam sejarah bangsa ini, yang penuh sembelit-konflik, intrik-picik, pengkhianatan, kudeta-picik, banjir darah, dan pengagungan kepada para jenderal perang, terselip sejumlah kisah lain yang membuat kita paham bahwa sejarah tak melulu berisi bentrokan politik, peperangan, dan amuk sosial. Salah satu kisah tersebut adalah pembebasan budak yang dilakukan oleh seorang mayor kaya raya bernama Augustijn Michiels.


Augustijn Michiels lahir 6 Januari 1769, sebagai anak ketiga dari Jonathan Michiels. Jonathan Michiels adalah Letnan Senior Kaum Papang, yang diangkat oleh pemerintah kolonial VOC-Belanda, yang lahir di sebuah pulau di negara yang kini bernama Filipina. Tahun 1776, Sang Letna membeli tanah di Cileungsi seharga 29.500 rijksdaalders.

Minggu, 05 Maret 2017

ANUGERAH KISWAH KEPADA RAJA BANTEN 4 ABAD LALU


Anugerah kain kiswah merupakan sesuatu banget bagi sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim, termasuk Indonesia. Penganugerahan “kain suci” tersebut oleh Raja Salman kepada Presiden RI merupakan pengulangan dari apa yang terjadi empat abad lampau di Banten.

Tahun itu, 1638 M, menurut Sajarah Banten, Pangeran Ratu Raja Banten alias Pangeran Abdullah Kadir, beserta anaknya, memperoleh gelar sultan pemberian Sultan Mekah. Gelarnya: Sultan Abulmafakir Mahmud Abdulkadir, sementara anaknya: Sultan Abul Ma’ali Akhmad (ayah Sultan Ageng Tirtayasa). Penganugerahan ini diperoleh setelah dua utusan Banten, Lebe Panji dan Tisnajaya, pergi menunakan haji ke Mekah lantas kembali dengan membawa surat dari Sultan Mekah berikut kain kiswah. 

Begitu kapal yang membawa pulang kedua utusan tersebut tiba di Teluk Banten, maka perahu Ki Pekih dan sejumlah mantri Banten menuju kapal di mana para utusan dari Mekah itu menunggu. Setelah mendekat, Ki Pekih dan para mantri segera naik ke atas kapal. Dentuman meriam tanpa peluru ditembakkan dari kapal, hingga sebelas kali. Gelegar yang sama sebelas kali dari arah kubu-kubu tembok Kota Banten menyahuti sebelas dentuman dari kapal di lepas pantai itu. Selang berapa lama, perahu itu kembali ke dermaga. Setelah mendarat, Ki Pekih dan para mantri yang masing-masing membawa nampan-nampan perak indah berisi surat dan hadiah dari Sultan Mekah, memasuki kereta kuda yang telah didandani elok dengan kawalan prajurit. Lebe Panji dan Tisnajaya, dua utusan Banten yang baru pulang dari Mekah, ikut turun bersama Ki Pekih dan para mantri, memasuki kereta kuda yang berbeda. 

Di sekitar alun-alun Kota Banten yang dikelilingi pepohonan kenari dan beringin, di sisi selatan sebelah kiri alun-alun berdiri balai Sri Manganti di mana Raja Banten duduk dengan kuluk di kepala, berbaju sikapan lengan panjang dari beludru hitam, serta kaki berwiron, di singgasana, ditemani sanak keluarga yang bersila. Di samping Sri Manganti, duduk di atas tikar para mantri dan pemain gamelan. Di selatan alun-alun berdiri istana megah Surasowan. Di barat alun-alun berdiri Masjid Agung Banten beratap limas susun lima. Di utara alun-alun terlihat perumahan yang dipisahkan anak kali yang membelah Kota. Di sebelah timur berdiri gedung syahbandar di tepi barat terusan anak sungai Cibanten, sungai pembelah kota.

Ki Pekih (dari kata fiqih; semacam ketua pengurus Masjid Agung Banten), semua mantri, serta Lebe Panji dan Tisnajaya turun dari kereta, berjalan menuju Sri Manganti, terus bersila lalu menyembah sang raja. Setelah diberi restu, Ki Pekih berdiri dan menyerahkan baki kepada seorang pejabat, lalu mengambil surat dari baki dan membukanya, berdiri menghadap warga. Sementara Lebe Panji dan Tisnajaya duduk di antara Kiai Tumenggung Wirautama, menteri yang ditugasi mengatur jalannya upacara, dan para mantri yang membawa baki-baki. Ki Pekih membacakan surat dengan lantang, menyatakan penghargaan Sultan Mekah kepada Raja Banten atas keingintahuan Sang Raja mengenai tiga buah kitab tarekat yang dimiliki istana Surasowan (satu di antaranya Al Muntahi karya Syaikh Hamzah Fansuri). Juga bahwa Sultan Mekah, Sarip Jahed, menganugerahi Raja Banten nama dan gelar baru: Sultan Abul Mafakir Mahmud Abdulkadir; juga gelar bagi anaknya yang berusia 20-an, yakni Sultan Abul Ma’ali Akhmad (ayah Sultan Ageng Tirtayasa). Setelah pembacaan selesai, alunan gamelan kembali ramai. Penganugerahan ini bermakna penting bagi Banten. Dengannya, Banten makin percaya diri dan sungguh telah layak disejajarkan dengan Aceh. 

Ki Pekih melanjutkan pidato dalam Jawa (campur Sunda?), menyatakan bahwa Sultan Mekah belum berkenan mengirimkan seorang ahli fikih ke Banten guna menjelaskan isi ketiga kitab tersebut sesuai permintaan Raja Banten. Namun Sultan Mekah telah anugerahkan bendera suci peninggalan Kanjeng Nabi Ibrahim dan kiswah penutup Kabah kepada Kanjeng Sultan Banten.
Banten, kerajaan yang didirikan Maulana Hasanuddin (anak Sunan [Gunung] Jati), di zaman Sultan Abul Mafakir Mahmud Abdulkadir masih berstatus merdeka. Selain merupakan tujuan kapal-kapal Nusantara dan asing berlabuh, Banten merupakan salah satu pusat kegiatan umat Muslim termasuk tarekat di Indonesia saat itu. Ada dua kelompok tarekat di Banten, yakni Qadariyah dan Rifaiyah (yang ditandai dengan pameran debus). 

Pangeran Ratu alias Sultan Abul Mafakir Mahmud Abdulkadir sendiri naik takhta pada Januari 1624. Dia adalah putra mahkota yang naik takhta saat berusia 28 tahun, menggantikan Pangeran Arya Ranamanggala yang menjadi walinya. Ayahnya sendiri, Maulana Muhammad, wafat di Palembang tahun 1598. Ada pun turunnya Pangeran Arya Ranamanggala dari takhta Banten, menurut pendapat orang Inggris dan Prancis sezaman, akibat desakan para pedadang asing, terutama orang Pecinan Banten yang ingin menjadikan Banten sebagai pelabuhan bebas kembali. Persaingan antara “pedagang bebas” dengan “pedagang feodal” telah terjadi di Banten saat itu. Komoditas seperti lada dan gula pasir memang menjadi primadona bagi para pedagang asing.

Mengenai perdagangan gula putih di Banten banyak ditulis oleh orang Eropa yang punya loji di Banten kala itu. Seperti catatan orang Inggris bahwa pada Februari 1638, pembelian gula oleh orang loji Inggris di Banten dari orang Cina di Kelapadua (belasan km di selatan Kota Banten) dilaksanakan dan kontraknya ditulis dalam bahasa Jawa. Dinyatakan, 8 orang Cina produsen gula tebu di Kelapadua dan enam keluarga setuju untuk menjual seluruh produksi gula mereka selama tiga tahun kepada kepala loji Inggris saja di bawah pengawasan Pangeran Ratu. Tiga tahun sebelumnya, Desember 1635, pedagang loji Inggris di Banten pergi ke Kelapadua untuk membeli sebanyak mungkin gula tebu untuk dimuat di atas kapal mereka, dengan izin Pangeran Ratu Banten yang saat itu sering tinggal di Banten Girang (ibukota lama zaman pra-Islam). Orang Inggris sendiri sebelumnya mendirikan markas dagang di Pulau Lagundi di Selat Sunda setelah pindah dari Batavia sejak tahun 1623 akibat pembunuhan besar-besaran orang Inggris di Ambon oleh orang Belanda. Tahun 1928 merea memutuskan pindah kembali ke Banten. 

Pada tanggal 26 Agustus 1640, , dilaksanakan kembali kontrak-dagang antara orang loji Inggris di Banten dengan 8 orang serta enam keluarga penghasil gula di Kelapadua, Banten, juga di bahwa pengawasan Raja Banten. Di dalam kontrak dinyatakan: kepala loji Inggris akan membeli dari setiap keluarga 100.000 batang tebu setiap tahun, jadi 600.000 batang seluruhnya, yang kemudian diproses menjadi gula oleh orang-orang Cina bersangkutan. Dinyatakan pula oleh orang-orang Cina tersebut bahwa 100.000 batang tebu akan menghasilkan 450 pikul (2,8 ton) gula pasir yang bermutu tinggi. Disebutkan pula bahwa orang-orang Cina tersebut bersedia membantu Sultan Banten untuk menggarap tanahnya ketika diperlukan, menyediakan satu-dua kati gula kepada Sultan untuk konsumsi pribadi. Sebagai informasi, akhir tahun 1620-an, warga Banten lebih suka menanam tebu ketimbang lada yang di zaman Pangeran Atya Ranamanggala dilarang ditanam walau di tahun 1631 produksi gula di Banten masih sedikit. 

Tentang perdagangan lada, tahun 1636, Sultan Banten, Pangeran Ratu, memerintah warganya untuk menanam lada kembali—sebelumnya lada sengaja tak ditanam dengan alasan kerap terjadi persaingan antara bangsa-bangsa Eropa dalam memperoleh hak untuk membelinya melalui restu Raja Banten. Barulah setelah Perang Pailir di awal abad ke-17 usai, Banten memutuskan untuk kembali mempraktiikkan “perdagangan bebas”. Menurut Sajarah Banten, mengingat para bangsawan Banten juga memiliki lahan-lahan sawah, Pangeran Ratu menghapuskan kewajiban yang dibebankan kepada para pejabat Banten untuk menghadapnya ke istana (seba, sowan) setiap hari selama bulan Kapat (September-Oktober) agar mereka bisa mengawasi penggarapan sawah-sawah mereka. 

Empat tahun kemudian, 1640, mengetahui wilayah-wilayah jajahannya di Sumatra, seperti Lampung, Bengkulu, dan Silebar, menjual lada langsung ke pedagang-pedagang asing, Banten mengirimkan ekspedisi militer dan berhasil menangkap pengusa Bengkulu yang kemudian dipenjara di Banten. Setahun kemudian, dua kepala pemberontakan di Lampung masuk ke penjara Banten, sedangkan syahbandar Silebar diturunkan jabatannya secara tak terhormat. 
Lada, gula, kapal-kapal dagang, dan anugerah kiswah dari Sultan Mekah kepada Raja Banten, merupakan jejaring yang menggiurkan sekaligus bisa mengancam keutuhan Banten. Indikator sebuah kerajaan itu besar salah satunya adalah luasnya jejaring perdagangan, selain pengakuan (yang diikuti anugerah) negara lain terhadap negara yang mayoritas warganya memeluk agama yang sama. 


Ojel
4 Maret 2017

Kamis, 23 Februari 2017

cisanti hulu citarum
Danau kuno Cisanti yang kini masih ada, hulu Citarum

CITARUM, SELAYANG PANDANG SEJARAH


Apakah Citarum sudah ada sejak Pulau Jawa tercipta beradab-abad sebelum Masehi? Saya belum tahu. Keberadaan sungai ini baru tertulis begitu Tanah Sunda atau Priangan memasuki abad sejarah; maksudnya, ketika nama sungai ini tertulis dalam aksara—bukan hanya terpendam dalam ingatan kolektif hasil penuturan lisan. 

Minggu, 12 Februari 2017

Tawuran


Halow, sobat, kenalin, saya adalah ruh dari seorang warga Batavia yang hidup di pertengahan abad ke-17. Selagi hidup, ane dipanggil Bang Amin. Asli dari Kampung Jawa, di luar tembok Batavia, kota metropolitan di zamannya. Ada tiga kampung yang ditempati oleh orang Jawa saat itu. Sebagian besar tinggal di sekitar Benteng Jaccatra di hulu Kali Krukut. Sisanya di luar gerbang Utrecht barat Kota, dan di luar gerbang Diest selatan Kota di mana saya sendiri tinggal. Saya hidup di saat Kompeni Belanda alias VOC tengah bersitegang dengan Banten dan Makassar—dua kerajaan Islam pesisir nan tangguh; satu di barat Pulau Jawa, satu di selatan Sulawesi, yang masing-masing merupakan kerajaan yang giat berniaga secara internasional. Juga di sebuah masa di mana perbudakan adalah hal lazim dan manusiawi. 

Minggu, 05 Februari 2017

Serangan Fajar "Orang-orang Hitam", Persahabatan Palsu, 
dan Wanita Cantik dari Portugis 


Badai sering datang tak terduga dan tak pandang bulu. Tiupan puting beliungnya menghantam kapal siapa saja, tak peduli itu bahtera dari seberang yang tengah menuju tujuan yang sama sekali berbeda. Itulah yang terjadi pada sebuah kapal Portugis yang berlayar menuju Goa di India tapi di tengah perjalanan terdampar di dekat pantai barat Sumatra tahun 1561.

Rabu, 01 Februari 2017

prajurit batak tempo dulu abad ke-19
Prajurit Batak abad ke-19. Beginilah mungkin sosok prajurit Batak
saat berperang dengan Aceh di abad ke-16

“Cinta Segitiga” antara Aceh, Portugis, dan Batak


Semua dapat dijadikan alasan untuk mengarahkan ujung tombak pada siapa pun yang dianggap tak sepaham. Tak peduli yang dituding itu tetangga sebelah. Dan alasan itu? Bisa kepentingan ekonomi, politik, atau agama. Atau ketiganya sekaligus. Maka, pekik dan gendering perang adalah jalan keluar yang paling sah untuk memancakkan kekuasaan yang seringnya angkuh dan egoistik. Dan perang semacam itulah yang lima abad lampau disaksikan oleh seorang Portugis bernama Fernao Mendez Pinto, negara yang telah punya koloni di Malaka dan juga ikut dalam kancah perseteruan itu—walau tak langsung.

Minggu, 29 Januari 2017

Ibnu Battutah image
Gambaran Battutah sedang mengendarai unta dalam sebuah naskah

Ketika Ibnu Battutah Dijamu oleh Sultan Pasai


Suatu hari di tahun 1345, seorang penjelajah asal Tangier, Maroko, bersama rombongannya tiba di Pasai. Memakai jubah dan serban, pria Muslim asal Magribi bernama Ibnu Battutah tak berencana sama sekali untuk singgah di ujung Pulau Sumatra itu sebelumnya. Lho, kok bisa?

Rabu, 25 Januari 2017

Gerakan Nyi Aciah, Sumedang (1870 – 1871) 


Kolonialisasi melahirkan harapan akan datangnya keajaiban, dan keajaiban di abad ke-19 itu bernama "Ratu Adil". Harapan itu pula yang menyelimuti benak masyarakat Sumedang sezaman saat seorang wanita setempat memperlihatkan keajaiban dalam dirinya. Ya, Ratu Adil bernama Nyi Aciah itu sudah berada di antaranya mereka.

Selasa, 24 Januari 2017

lukisan diri raden saleh
Lukisan diri Raden Saleh

Raden Saleh, Pelukis Modern Pertama Indonesia


Siapa tak kenal nama lelaki yang dijuluki “bapak seni lukis” ini? Ialah pelukis Indonesia pertama yang secara sistematis menggunakan cat minyak dan mengambil teknik-teknik lukis Barat. Di tangannya, lukisan tak lagi simbolis semacam bentuk wayang atau suluran seperti dalam batik yang sejak berabad-abad dilakukan seniman Indonesia. Realisme pada potret, pencairan gerak, perspektif serta komposisi berbentuk piramidalah yang ia terapkan; dan itu semua merupakan ilmu seni rupa Barat.

Senin, 23 Januari 2017

budaya mudik
Mudik, salah satu tradisi primordial orang Indonesia

Mudik


Sejak kapan orang Indonesia suka mudik menjelang Lebaran? Saya kurang begitu tahu. Sejak orang Indonesia pertama sekali memeluk Islam? Kemungkinan iya. Yang jelas, tradisi mudik memang fenomena khas Indonesia, konon di Jawa zaman kolonial. Kini, saat masyarakat Indonesia banyak memilih jadi makhluk industri di kota-kota besar ketimbang jadi petani di desa-desa miskin atau setengah miskin, jaringan aktivitas mudik pun meluas, bahkan lintas negara. Mudik adalah budaya.

Sabtu, 21 Januari 2017

Prajurit Estri Mataram


Dunia kemiliteran ternyata tak cuma milik lelaki. Di Indonesia, keberadaan prajurit perempuan sudah lama ada. Itulah kesaksian laksamana Prancis, Augustin de Beaulieu, saat berkunjung ke istana Aceh dan menyaksikan sendiri keberadaan prajurit perempuan di sana di abad ke-17. Kesaksian lain datang dari Rijklof van Goens dan Valentijn tentang prajurit-estri di Mataram. 
rumah dinas gubernur jenderal VOC di Kastil Batavia abad ke-17
Rumah dinas para gubernur jenderal VOC di Kastil Batavia abad ke-17,
tempat dirumuskannya kebijakan sosial-politik-ekononi oleh gubernur jenderal

Masalah Perizinan Mendirikan Masjid di Batavia Abad ke-17


Masalah perizinan mendirikan tempat beribadah kerap jadi masalah di sebuah wilayah yang pemerintahannya berbeda keyakinan. Seperti yang terjadi di medio abad ke-17 di Batavia. Sejak berdirinya, Batavia, kota ala Eropa ciptaan Jan Pieterszoon Coen tahun 1619 ini, memang diperuntukkan sebagai koloni orang-orang Belanda dan Eropa lain yang harus patuh pada kebijakan VOC-Belanda. “Orang-orang asing” seperti Cina, India, Arab, Portugis, dan “Moor” serta Hindia lain semisal Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, Bali, Ambon, dan Maluku, pun harus taat pada kebijakan Pemerintah Agung Batavia yang resminya beragama Protestan.